Gatot Persoalkan Hilangnya Patung Soeharto di Markas Kostrad

Dok.Kostrad

JAKARTA – Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo kembali mempersoalkan hilangnya patung Presiden ke-2 Soeharto. Usai mempersoalkan hilangnya patung Soeharto di Markas Kostrad, Gatot kini membandingkan patung Soeharto dengan patung Proklamator Sukarno.

Gatot Nurmantyo menyampaikan hal itu di akun YouTube Karni Ilyas dengan tajuk ‘KOMUNIS BANGKIT LAGI?? JENDERAL GATOT: SAYA MEMBERIKAN WARNING!” – KARNI ILYAS CLUB’. Gatot memberi jawaban ketika ditanya tentang harapannya usai peristiwa hilangnya patung Soeharto dkk di Markas Kostrad.

“Ya saya tetap berpikir positif bahwa karena Kostrad itu adalah tulang punggung, pada saat ’65 (1965) dan seterusnya, untuk menjaga. Karena justru museum itu ada di Kostrad itu adalah bentuk pewarisan sejarah, agar semua prajurit Kostrad itu tahu dan sadar, bahwa panglimanya seperti itu, kemudian Kostrad seperti itu, sehingga suatu saat operasi pasti dia paling depan Kostrad,” kata Gatot dalam YouTube Karni Ilyas seperti dilihat, Kamis (30/9/2021).

Gatot kemudian bicara mengenai keberadaan patung Soeharto. Gatot merasa ironis karena patung Soeharto hilang bahkan tidak ada, sementara patung Sukarno ada di mana-mana.

“Nah ini, tiga-tiganya mengusik kebangsaan saya, sosok Sarwo Edhie, saya juga prajurit komando, Pak Harto (Soeharto), saya juga mantan Pangkostrad, Pak AY (Azmyn Yusri) Nasution juga mantan KSAD, beliau-beliau inilah contoh, panutan, tentang bagaimana perjuangan, bagaimana cara berpikir, bagaimana cara merencanakan mengambil keputusan yang efisien. Sehingga dalam waktu yang sesingkat-singkatnya bisa memutarbalikkan. Ini kan suatu hal sangat strategis bagi bukan hanya TNI, keluarganya, maupun masyarakat,” tutur Gatot.

“Bung Karni, di mana-mana patung Bung Karno ada, bahkan nama Soekarno-Hatta jalan ada, Pak Harto mantan presiden ada jasanya juga, mana sih ada patung? Hanya patung kecil seperti itu pun musnah. Ini kan suatu hal yang sangat ironis,” lanjutnya.

Dia meminta siapa pun menghormati Presiden Indonesia. Dia berharap ada patung-patung presiden RI di Markas Kostrad.

Gatot berharap setiap Presiden RI dapat dihargai seluruh pihak. Gatot mengatakan seluruh Presiden RI dapat punya jasa kepada Indonesia.

“Nah harapan saya, marilah sama-sama kita hormati siapapun mantan presiden kita semuanya. Sehingga dunia melihat bahwa kita bangsa yang besar menghargai apapun kesalahannya, ini hanya sebagai pelajarannya jangan sampai terulang, tetapi kita angkat sama-sama. Bung Karno contohnya bawa proklamasi, kemudian Pak Harto Bapak Pembangunan, Bu Mega presiden wanita pertama, dan seterusnya, Jokowi mungkin Presiden infrastruktur, kan gitu, jadi ditokohkan semuanya pada posisi yang sama. Sehingga dunia melihat wah itu Indonesia,” pungkasnya.

Gatot sebelumnya sempat menyatakan hilangnya patung Soeharto dkk di Museum Dharma Bhakti, Markas Kostrad, sebagai bukti komunis masih ada di Indonesia, terkhusus di institusi TNI. Barang-barang yang dihilangkan, sambung Gatot, adalah yang berkaitan dengan peristiwa penumpasan komunisme di Tanah Air pada era Orde Lama.

“Bukti nyata jurang kehancuran itu adalah persis di depan mata, baru saja terjadi adalah Museum Kostrad, betapa diorama yang ada di Makostrad, dalam Makostrad ada bangunan, bangunan itu adalah kantor tempatnya Pak Harto (Soeharto) dulu, di situ direncanakan gimana mengatasi pemberontakan G30S/PKI di mana Pak Harto sedang memberikan petunjuk ke Pak Sarwo Edhie sebagai Komandan Resimen Parako dibantu oleh KKO,” ujar Gatot dalam webinar berjudul ‘TNI Vs PKI’ pada Minggu (26/9) lalu.

“Ini tunjukkan bahwa mau tidak mau kita harus akui, dalam menghadapi pemberontakan G30S/PKI, peran Kostrad, peran sosok Soeharto, peran Kopassus yang dulu Resimen Para Komando dan Sarwo Edhie, dan peran Jenderal Nasution, peran KKO jelas akan dihapuskan dan (tiga) patung itu sekarang tidak ada, sudah bersih,” lanjutnya.

Moderator webinar menanyakan lebih jauh soal hilangnya diorama di Makostrad. Gatot lantas menjelaskan lebih lanjut bahwa dirinya mendapatkan informasi dari utusan yang dikirimnya ke Museum Makostrad.

Gatot menyebut pada kondisi saat ini diorama di Museum Makostrad yakni patung Soeharto, Sarwo Edhie, dan AH Nasution beserta 7 pahlawan revolusi sudah hilang.

“Saya mendapat informasi walau bagaimanapun saya mantan Pangkostrad baru akhir akhir ini disampaikan bahwa diorama bukan hanya patung Pak Harto, patung Pak Sarwo Edhie, sama Pak Nasution tapi juga 7 pahlawan revolusi sudah tidak ada di sana, dan khusus di ruangan Pak Harto mencerminkan penumpasan pemberontakan G30SPKI dikendalikan oleh Pak Harto di markasnya,” katanya.

“Saya tadinya tidak percaya tapi saya utus seseorang yang tidak bisa saya sebutkan di sana dan memfoto ruangan itu dan dapatkan foto dari video itu yang terakhir sudah kosong,” sambung Gatot.

Panglima Kostrad Letjen TNI Dudung Abdurachman membantah tuduhan Gatot Nurmantyo mengenai komunisme menyusup ke TNI karena hilangnya patung Soeharto dkk di Markas Kostrad. Dudung menegaskan hal itu adalah tuduhan yang keji.

“Patung tiga tokoh di Museum Darma Bhakti Kostrad, yakni Jenderal TNI AH Nasution (Menko KSAB), Mayjen TNI Soeharto (Panglima Kostrad), dan Kolonel Inf Sarwo Edhie Wibowo (Komandan RPKAD) memang sebelumnya ada di dalam museum tersebut. Patung tersebut dibuat pada masa Panglima Kostrad Letjen TNI AY Nasution (2011-2012),” kata Dudung dalam keterangannya.

Dudung mengatakan patung itu kini telah diambil kembali oleh AY Nasution. Pengambilan patung itu karena alasan pribadi atas izin Dudung. Dudung menghargai alasan pribadi Letjen TNI (Purn) AY Nasution, yang merasa berdosa membuat patung-patung tersebut menurut keyakinan agamanya.

Dudung menepis jika pengambilan patung itu disimpulkan TNI melupakan peristiwa G-30S-PKI. Dudung menegaskan pihaknya tak pernah melupakan peristiwa itu.

“Jika penarikan tiga patung itu kemudian disimpulkan bahwa kami melupakan peristiwa sejarah pemberontakan G-30S-PKI tahun 1965, itu sama sekali tidak benar. Saya dan Letjen TNI (Purn) AY Nasution mempunyai komitmen yang sama tidak akan melupakan peristiwa terbunuhnya para jenderal senior TNI AD dan perwira pertama Kapten Piere Tendean dalam peristiwa itu,” kata Dudung.

Oleh sebab itu, Dudung menilai tudingan Gatot bahwa TNI disusupi PKI gegara patung itu tidaklah benar. Tuduhan itu, kata Dudung, adalah tudingan yang keji.

“Jadi, tidak benar tudingan bahwa karena patung diorama itu sudah tidak ada, diindikasikan bahwa AD telah disusupi oleh PKI. Itu tudingan yang keji terhadap kami. Seharusnya Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo selaku senior kami di TNI, terlebih dahulu melakukan klarifikasi dan bisa menanyakan langsung kepada kami, selaku Panglima Kostrad. Dalam Islam, disebut tabayun agar tidak menimbulkan prasangka buruk yang membuat fitnah, dan menimbulkan kegaduhan terhadap umat dan bangsa,” pungkasnya.