BNPB Ingatkan Pentingnya Peringatan Dini Bencana dari BMKG

JAKARTA – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Ganip Warsito menegaskan pentingnya peringatan dini dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi yang meningkat akibat fenomen La Nina yang diprakirakan akan bertahan sampai Februari 2022.

“Demikian pentingnya peringatan dini sehingga saya bermohon kepada Kepala BMKG untuk bisa memberikan informasi, syukur-syukur bisa lebih detil untuk bisa dijadikan pedoman kita dalam mengambil langkah tindakan yang cepat dan tepat,” kata Kepala BNPB Ganip Warsito dalam Rapat Koordinasi Antisipasi La Nina yang diadakan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) secara virtual, Jumat (29/10/2021).

Dalam kesempatan itu, Ganip kembali mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara rawan bencana, dimana dalam kurun waktu 2016 sampai 2020, terjadi 17.032 bencana alam.

 “Hampir 99 persen bencana hidrometeorologi, sementara tahun 2021 sebanyak 2172 kejadian bencana alam yang didominasi oleh banjir, angina puting beliung, sehingga saat ini kita tidak berjuang melawan pandemi saja, tetapi juga berjuang dengan bencana lainnya, kita harus mulai siap siaga,”jelasnya.

Menurut Ganip, peringatan dini yang dikeluarkan oleh BMKG menjadi salah satu referensi untuk ditindaklanjuti di lapangan. Meski demikian, masih terdapat “missing link” atau sambungan yang hilang antara informasi yang disampaikan terkait peringatan dini dan respons oleh masyarakat.

“Ini memang perlu kita carikan solusi ke depannya sehingga kita bisa betul-betul antara informasi dari BMKG bisa diperoleh serinci mungkin, sehingga nanti responsnya juga bisa lebih tepat,”tandasnya.

Ganip menjelaskan bahwa informasi yang rinci akan memungkinkan diambilnya langkah-langkah di lapangan yang dapat menjadi model untuk penyelamatan dari ancaman bencana.

Sementara, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati juga mengingatkan putusnya rantai informasi peringatan dini sampai ke masyarakat harus segera diantisipasi saat menghadapi dampak La Nina. Terputusnya rantai informasi, jelasnya, dapat menghambat kesiapsiagaan masyarakat untuk menghadapi bencana.

“Berdasarkan pengalaman beberapa kali terputusnya rantai informasi dari Pusdalops yang tidak bisa dilanjutkan dari pemda ke desa-desa terdampak atau rawan bencana hidrometeorologi,”kata dia.

BMKG telah melakukan monitor adanya fenomena La Nina lemah sampai akhir tahun dan kondisi itu akan terus bertahan sampai Februari 2022 dengan level menengah.  Fenomena La Nina akan meningkatkan curah hujan yang mendorong juga naiknya potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor. (red)